Sejak kapan rumah Allah dijaga? Kisah-kisah dalam Perjanjian Lama menuturkan tentang karya para penjaga Kemah Pertemuan. Mereka ditetapkan Allah untuk menjaga tempat itu.

Keluaran 33:7-11 bertutur tentang Kemah Pertemuan sebagai tempat bagi umat Allah menghadap hadirat-Nya. Keberadaan Kemah Pertemuan membuat banyak orang datang untuk menghayati kasih dan penyertaan Allah dalam perjalanan mereka dari tanah perbudakan menuju tanah perjanjian. Musa, abdi Allah menetapkan para petugas di sana. Salah satu petugas yang ditetapkan Musa adalah para penjaga Kemah Pertemuan. Pada ayat 11 disebutkan bahwa Yosua bin Nun menjaga Kemah pertemuan saat Musa menghadap Allah. Ia tidak pernah meninggalkan Kemah Pertemuan karena bertugas menjaga Kemah itu supaya aman dan nyaman.

Kitab I Tawarikh pasal 9 menuturkan tentang peran para penunggu Rumah Ibadat. Ada banyak nama dan peran mereka dalam menjaga Rumah Ibadat. Mereka meneladankan kehidupan yang baik melalui karya di Rumah Ibadat. I Tawarikh 26 yang menjadi kelanjutan pasal 9 menuturkan tentang bagian-bagian yang harus dijaga, kriteria para penjaga, aturan detail dalam penjagaan, serta kaitan antara penjagaan Rumah Ibadat dan iman pada Allah.

Penjaga Rumah Allah, bukan pekerjaan biasa. Para penjaga menjalankan karya atas mandat yang dipercayakan pada mereka. Saat ini, Gereja sebagai tempat umat Allah berjumpa membutuhkan karya dari para penjaga. Mereka mendapat mandat untuk menjaga keamanan, ketertiban di sekitar gedung Gereja. Peran para penjaga Gereja penting bagi pelaksanaan peribadatan dan aneka kegiatan gerejawi lainnya. Karena itu, dukungan bagi para penjaga Gereja perlu diberikan supaya mereka menghayati karyanya sebagai karya yang luhur.

Temu Karya Penjaga Rumah Allah berlangsung di LPP Sinode GKJ dan GKI SW Jateng pada tanggal 29-30 April 2025. Perjumpaan di antara para pekerja diisi dengan sharing pengalaman, pemahaman dan penghayatan karya di Rumah Allah, refleksi pribadi, pengembangan team work, serta peneguhan komitmen.

Melalui sharing pengalaman dibagikan kisah-kisah menarik, aneka tantangan dalam karya. Sesi pemahaman dan penghayatan karya menjadikan peserta menemukan makna berkarya sebagai Penjaga Rumah Allah. Refleksi pribadi meneguhkan spiritualitas karya. Selanjutnya, melalui dinamika kelompok, para peserta memantapkan karya yang harus dilakukan dengan kerja sama. Kegembiraan dirasakan oleh semua peserta yang hadir dalam kegiatan ini.
Di akhir kegiatan, mereka menyampaikan harapannya agar kegiatan semacam ini tetap diselenggarakan karena manfaat baik yang didapatkan.

Selamat berkarya sahabat-sahabat LPP Sinode yang dipercaya untuk menjaga Rumah Allah. Semoga setiap karya dan layanan yang diberikan diberkati Allah dan menjadi berkat.