Home » buku » quo vadis lpps

QUO VADIS LPPS?

LPPS ulang tahun? Wah, baru kali ini kita mendengarnya. Kalau Sinode GKJ atau GKI SW Jateng ulang ta­hun, atau kalau Yakkum, UKDW, UKSW atau lembaga Kristen lain­nya merayakan ulang tahun ..kita semua sudah sering mendengar dan bahkan ikut terlibat dalam acara-acara ulang tahun gereja atau lembaga gereja itu. Tetapi LPP Sinode (yang dalam bahasa lisan sering disebut LPPS)? Kapan LPPS ulang tahun? Itulah pertanyaan yang segera muncul, “Berapa umur LPPS itu sekara­ng? Masih muda, sudah dewasa atau sudah begitu tua?”

Siapa sangka, umur LPPS sudah mencapai 39 tahun. Angka 39 kita peroleh dari pelacakan “sejarah” LPK/LPPS yaitu sejak kedua Sinode (GKJ dan GKI Jateng) membentuk Pengurus Lembaga Pendidikan Kader yang mulai berfungsi pada tanggal 28 November 1968. Tanggal ini ditetapkan sebagai tanggal lahir LPK (yang kemudian menjacli LPP Sinode) dalam rapat Pengu­rus LPP Sinode tanggal 24 Janu­ari 2002 setelah berkonsultasi dengan kedua sinode.

Lalu, apa saja yang akan diada­kan menyambut HUT LPPS pada atau di sekitar tanggal 28 November 2007? Tampaknya tidak banyak acara atau kegiatan yang akan di­selenggarakan selain penerbitan buletin, leaflet untuk para Sa­habat LPPS dan ibadah syukur intern. Oleh karena itu, buletin edisi khusus, edisi ulang tahun ini akan menjadi kado ulang tahun yang justru dikirimkan oleh LPPS itu sendiri kepada gereja-gereja/ jemaat-jemaat yang dilayani.

Edisi ini diberi tema QUO VADIS LPPS?. Quo vadis, ada­lah sebuah kalimat dalam bahasa Latin yang terjemahannya secara harafiah adalah; “Kemana engkau pergi?” Kalimat ini adalah ter­jemahan Latin petikan dari kitab Perjanjian Baru, Injil Yohanes, bab 16 ayat 5. “tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan dada seorang pun di antara kamu yang berta­nya kepada-Ku: Ke mana Eng­kau pergi?” Semenjak dahulu, ka­limat ini seringkali dipergunakan. Salah satu contoh yang sangat terkenal ialah judul buku dalam bahasa Indonesia: Ouo Vadis NU Setelah Kentha ke Khittah 1926, karangan Kacung Marijan (Ja­karta:Erlangga) pada tahun 1992. (dikutip dari Wikipedia Indonesia). Jadi, sebenarnya istilah ini sendiri bermakna netral sebagai sebuah pertanyaan kepada seseorang atau institusi tentang arah ke depan, “Kemana engkau pergi?”.

Pertanyaan reflektif QUO VADIS cocok untuk suasana ulang tahun. Ulang tahun sese­orang atau institusi bukan sekedar peringatan akan masa lalu atau ungkapan syukur atas perjalanan masa silam sampai sekarang. Ulang tahun juga sebuah kesem­patan untuk menatap ke depan. Mau kemana setelah sekian tahun boleh hidup, bergerak dan berja­lan di tengah dunia ini? Begitu pula LPPS! Ketika muncul ga­gasan untuk memperingati ulang tahun LPPS -setelah sekian lama atau hampir tidak pernah sama sekali dirayakan- terkandung maksud utama untuk menatap ke depan. Mau kemana dan mau berbuat apa?

Di dalam edisi ini, kilas balik perjalanan LPPS dibawah judul Dari Deputat Pendidikan Kader Hingga LPP Sinode akan disajikan dan merupakan basil suntingan Pdt. Sulendra PA se­bagai seorang PPP (Pelaksana Pembinaan dan Pengaderan) yang pada saat ini paling lama ber­karya di LPPS. Kemudian, ada 5 tulisan pendek berupa Kesan-pe­san-harapan Clari Ibu Sih Hariris, seorang anggota Pengurus LPPS, Ibu Ratih, seorang anggota jema­at GKI, Bapak Untung Suripno, seorang anggota, jemaat/gereja (penatua) GKJ, Pdt. Widdwis­soeli MS dan Pdt. Widi Artanto, keduanya PPP LPPS.

Sesudah itu, beberapa tabel tentang Keikutsertaan Anggota Gereja/jemaat dalam Program LPPS yang diedit dan dinarasikan oleh Pdt. Darsono  Eko Noegroho akan memberikan gambaran ke­pada kita sejauh mana program-program LPPS diikuti oleh gere­ja-gereja GKJ dan jemaat-jemaat GKI SW Jateng. Kemudian kita diajak untuk sekilas mengenal Pengurus, PPP dan Karyawan LPPS. Tulisan-tulisan ini diharap­kan dapat ikut mengungkapkan jejak-jejak perjalanan LPPS sam­pai saat ini dan arah perjalanan LPPS ke depan, sesuai terra bu­letin edisi khusus ulang tahun ini, Quo Vadis LPPS?

Seperti model buletin LPPS yang lalu, sebuah makalah yang pernah didiskusikan dalam Per­temuan Studi PWG, diangkat kembali dan dimuat dalam buletin edisi 31 ini. Kali ini kita angkat makalah dari Bapak Bernard Adeney Risakotta, PhD. atau Pak Bernie yang berjudul “Fenomena Pertemuan Akbar Keagamaan di tengah Konteks Pluralitas Agama: Misi, Metode dan Kebebasan Agama” yang pernah disampai­kan dalam Pertemuan Studi PWG tanggal 8 Agustus 2007 yang lalu. Demikian juga salah satu resen­si atau telaah buku yang pernah didiskusikan pada tahun 2007 ini, yaitu ringkasan telaah buku “Satu Tuhan Seribu Tafsir” dan sebuah bahan PA berjudul “Berkembang Untuk Ikut Mewujudkan Damai Sejahtera di Indonesia”. Kedua­nya ditulis oleh Pdt. Widi Artan­to. Akhirnya, buletin ini juga me­nyampaikan informasi kegiatan LPPS tahun 2006 dan 2007 yang dikemas oleh Pdt. Darsono Eko Noegroho. Informasi ini men­cakup 2 tahun karena selama tahun 2006, buletin LPPS tidak terbit sehingga kali ini disajikan apa yang dikerjakan selama dua tahun.

Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih atas sumbangan tulisan yang dimuat dalam edisi ini, dari:

  1. Ibu Sih Hariris
  2. Ibu Ratih Rahayu Astuti Gunadi — Kediri
  3. Untung Suripno, Jog­jakarta

yang telah bersedia mengungkap­kan kesan-pesan-harapan pribadi tentang dan bagi LPPS. Kepada mereka, kami mengucapkan te­rima kasih. Di samping itu, kami juga menyampaikan terima kasih atas perkenan Bapak Bernard Adeney-Risakotta sehingga ma­kalah yang pernah disampaikan dalam Pertemuan Studi PWG pada tanggal 8 Agustus 2007 yang lalu dapat dimuat dalam Buletin ini.

Selamat membaca dan se­moga berguna!

Yogyakarta, Awal November 2007

PPP-LPP Sinode GKJ dan

GKI Jateng