Home » buletin » Buletin No. 24 : Gereja Ikut Menanggulangi Penyalahgunaan Narkoba dan Seks

Jual beli dan penyelendupan narkoba makin merajela, sehingga semakin banyak anggota masyarakat yang menjadi korban karenanya. Pengguna narkoba semakin meningkat dari tahun ke tahun. Tentu ada pula warga gereja yang menjadi korban narkoba, menjadi pecandu narkoba, bahkan mungkin jumlahnya juga terus bertambah. Penyalahgunaan narkoba biasanya berlanjut pada penyalahgunaan seks sebagai akibat ketidaksadaran orang yang menggunakan narkoba tersebut, sehingga mudah digiring ke penyalahgunaan seks. Akibat selanjutnya adalah penggunaan jarum suntik yang tidak steril dan digunakan secara bergilir menimbulkan orang terasebut terkena virus HIV (Human immuno Deficiency Virus), yaitu virus penyebab penyakit AIDS (Acquared Immune Defciency Syndrome), yang akhirnya mengidap penyakit AIDS yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya. Memperhatikan hal tersebut, tentu gereja dan keluarga-keluarga Kristen tidak boleh tinggal diam. Kita semua dipanggil untuk mewujudkan kehidupan yang bersih,yang sehat, yang nyaman. Kita dipanggil untuk ikut serta memberantas penyalahgunaan narkoba dan seks, tetapi apakah memang hal tersebut bisa diberantas? Minuman yang membuat orang mabuk sudah ada sejak adanya manusia. Nuh mabuk karena terlalu banyak minum anggur (Kej. 9:21). Dokter Inu Wicaksana Sp.Kj, Psikiater/Kepala Bidang Pelayanan Medik Rumah Sakit Jiwa Pusat Magelang, dalam Artikel Pertama “KENAKALAN REMAJA DAN PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA DAN ZAT ADIKTIF“ tinjauan dari segi medis menyebutkan, bahwa minuman beralkohol sudah dikenal sejak 5000 tahun yang Ialu. Pdt. Simon Rachmadi, M.Si., pendeta GKJ Gandekan Palur, dalam Artikel Kedua ‘NARKOBA, AIDS, DAN SEKS”, Suatu Releksi Teologis menyebutkan, bahwa tanaman opium sudah dibudidayakan sejak tahun 4000 sM. Di Persia, Mesir, dan Mesopotamia, bahkan 30.000 tahun yang Ialu telah digunakan oleh species Neandertalensus. Keduanya adalah topik studi PWG yang berlangsung pada tanggal 12 September 2000. Karena yang menjadi korban narkoba sebagian besar adalah remaja dan pemuda, maka dokter Inu Wicaksana mengajak para orang~tua untuk memberikan perhatian yang memadai kepada anak-anak kita yang masih remaja dan pemuda, bagaimana pun sibuknya orang-tua berjuang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kebutuhan anak-anak untuk diperhatikan adalah kebutuhan sehari-hari juga. Sedangkan Pdt. Simon Rahmadi mengajak kita untuk tetap memberikan perhatian dengan penuh kasih kepada para korban penyalahgunaan narkoba dan seks, serta para penderita AIDS. Yang harus diperangi bukanlah para pengedar pengguna eceran, melainkan jaringan besar yang membentuk peradaban zaman ini menjadi semakin lekat dengan “narkoba, AIDS, dan seks.”. Untuk melawan jaringan besar itu, Gereja harus melakukan pendekatan budaya. Gereja harus mempromosikan budaya altematif yang bersifat pro-manusia. Bahasa Gereja harus dilengkapi, agar supaya tidak melulu ritual semata, akan tetapi sekuler dan menyentuh persoalan-persoalan rawan sehari-hari. Merokok bisa merupakan awal mula seseorang tejerumus ke dunia narkoba. Oleh karena itu, kebiasaan merokok perlu dihindari, apalagi bagi anak-anak yang masih di bawah umur. Para perokok pun perlu selalu berpikir ulang tentang kebiasaan yang tidak ada manfaatnya bagi kesehatan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>