Home » buletin » Buletin LPP Sinode-Krisis dan Kepedulian Sosial

Buletin LPP Sinode-Krisis dan Kepedulian SosialKesejahteraan hidup manusia, merupakan pusat keprihatinan Agama. Sebagai suatu kehidupan bersama religius, Agama-agama membimbing manusia pada pengabdian kepada kehidupan bersama manusia. Keseluruhan ajaran Agama, pada intinya bertujuan mengarahkan manusia untuk memelihara, mengembangkan, dan meningkatkan mutu kehidupan.

Sama seperti Agama-agama lainnya, Gereja sebagai kehidupan bersama religius orang-orang Kristen, juga memiliki peran dalam upaya memelihara, mengembangkan, dan meningkatkan mutu kehidupan itu. Pada satu pihak, dalam melaksanakan perannya itu Gereja mendasarkan hidupnya kepada keyakinan . di akan pekerjaan Allah sendiri dalam dunia ini yang telah, sedang, dan akan menyempurnakan kesejahteraan hidup seluruh umat manusia, seperti yang disaksikan oleh Alkitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dalam melakukan pekerjaan-Nya di dunia ini, Allah berkenan melibatkan Gereja-Nya dalam pekerjaan Allah itu. Pada pihak lain, agar Gereja dapat melaksanakan peranannya secara konkrit di dunia ini, Gereja dituntut untuk melibatkan diri secara konkrit dalam kehidupan masyarakatnya. Gereja dituntut untuk turut serta secara aktif dalam pergumulan masyarakat di mana Gereja berada.

Berkaitan dengan yang terakhir dikatakan itu, justru di tengah-tengah masyarakat yang sedang dilanda oleh krisis ekonomi, politik, dan sosial dewasa ini, peran sosial Gereja mendapat tantangan serius. Bagaimana Gereja akan menjalankan peranannya itu ?

Salah satu upaya untuk membantu Jemaat-jemaat mendapatkan jawaban atas pertanyaan di atas, Buletin LPP Sinode dalam no. 18 ini Nadir di hadapan saudara sekalian.

Melalui tulisannya yang berjudul KRISIS DAN KEPEDULIAN SOSIAL, Pdt. Willy Darmawan Suselo menyambut gembira atas upaya yang telah dilakukan oleh Gereja-gereja untuk ikut meringanlcan beb an mereka yang mengalami kesulitan akibat krisis ekonomi dan mendampingi pihak­pihak yang menjadi kurban kerusuhan. Namun is menambahkan, usaha-usaha itu belum cukup. Karena yang lebih diperlukan bukan hanya tindakan karitatif, tetapi juga perjuangan melawan tindakan-tindakan yang menyebabkan kemiskinan. Perjuangan ini penuh resiko. Tetapi justru dalam suasana reformasi sekarang ini, resiko btu dapat dikurangi. Pada masa reformasi ini, ada kebebasan semua pihak untuk melakukan koreksi sekaligus menawarkan jalan keluar dari krisis yang tengah terjadi. Itu berarti bahwa situasi saat ini merupakan suasana kondusif yang membuka peluang bagi Gereja untuk melakukan perannya.

Selain suasana kondusif, Gereja juga membutuhkan keberanian. Keberanian yang digerakkan oleh kebenaran universal dan pengenalan yang baik mengenai sebab-sebab munculnya penderitaan. Keberanian yang digerakkan oleh kebenaran universal, menolong Gereja untuk tidak berjuang demi kepentingan kelompok atau golongan, tetapi berjuang demi kesejahteraan hidup umat manusia pada umumnya yang menjadi keprihatinan Allah. Kemudian keberanian yang didukung oleh pengenalan yang baik mengenai sebab-sebab munculnya penderitaan, akan membantu Gereja untuk bertindak tidak gegabah. Keberanian semacam ini dapat dimiliki kalau Gereja membangun relasi yang baik dengan Allah, serta berakar dalam kehidupan masyarakatnya.

Tulisan berikutnya, Pdt. Sulendra Partoatmodjo mengajak kita belajar dari keberanian nabi Amos menyuarakan kritik tajamnya kepada pihak yang melakukan ketidak-adilan terhadap sesamanya, dengan merefleksikan spiritualitas nabi. Melalui refleksinya yang berjudul AMOS : KUASA S1NGA MENGAUM YANG TALC TERTAHANKAN, Pdt. Sulendra Partoatmodjo menjelaskan bahwa keberanian nabi itu digerakkan oleh spiritualitasnya, yaitu keterarahan hidup nabi kepada kuasa dan kehendak Allah serta hidup nabi yang begitu dekat mengakar kepada penderitaan masyarakatnya. Kritik Amos terhadap kelas elit masyarakatnya yang melakukan ketidak-adilan terhadap kaum petani ini, merupakan sumbangan konkrit Amos bagi perjalan masa depan kehidupan bangsanya. Alchirnya, mengingat Gereja memiliki panggilan kenabian yang sama dengan nabi Amos, demi masa depan bangsanya Gereja perlu mengaktualisasikan relasinya yang dekat dengan Allah dan keterarahanya kepada kehidupan masyarakatnya.

Masih berkaitan dengan bagaimana Gereja berperan di tengah-tengah masyarakat yang sedang dilanda multi lcrisis ini, buku tulisan Pdt. Widi Artanto MENJADI GEREJA MISIONER menjadi amat penting. Itulah sebabnya, Buletin LPPS no. 18 ini juga dilengkapi dengan Resensi Buku tersebut, yang diresensi oleh penulisnya sendiri. Melalui resensinya itu, Pdt. Widi Artanto mengajak Gereja agar menggali misinya dari Alkitab baik PL dan PB, supaya Gereja jangan sampai terjebak dalam pemahaman misinya sebagai ekspansi Agama. Kalau upaya itu dilakukan, sekurang-kurangnya akan dijumpai lima corak misi yang menonjol dalam Alkitab. Kelima corak misi itu tidak bisa dipisah­pisahkan yang satu terhadap yang lain, yaitu Misi Penciptaan, Misi Pembebasan, Misi Kehambaan, Misi Pendamaian, dan Misi Kerajaan Allah. Kelima corak misi itu selanjutnya perlu menjadi acuan bagi Gereja-gereja di Indonesia dalam melaksanakan misi dalam konteksnya.

Agar pergumulan tentang pecan Gereja dalam masyarakatnya itu juga menjadi pergumulan warga gereja, disertakan pula bahan Pemahaman Alkitab yang dapat dipakai sebagai titik tolak pergumulan.

Panggilan iman untuk ikut ambil bagian dalam berupaya mengatasi krisis yang terjadi dalam masyarakat ini, bukan semata-mata hanya dimiliki oleh Gereja. Gereja perlu menyadari bahwa usaha serupa juga merupakan usaha segenap anggota masyarakat. Itulah sebabnya, dalam rangka menghayati panggilan Tuhan melalui Paulus dalam Galatia 6:7-10, Pdt. Darsono Eko Noegroho mengajak setiap warga gereja untuk belajar dari pengalaman sekelompok warga masyarakat dalam upaya mereka menolong sesamanya yang kurang beruntung. Dengan menggunakan metode Refleksi Lewat Berita Koran, ajakan itu dikernas dalam Bahan Pemahaman Alkitab yang berjudul BERBUAT BAIK KEPADA SEMUA ORANG.

Melengkapi Buletin no. 18 ini, juga disertakan cuplikan berita tentang pengalaman salah satu Gereja dalam menanggapi krisis yang melanda bangsa kita. Pengalaman salah satu Jemaat ini yaitu GKJ Magelang – ditulis oleh Pdt. Toni Jadmiko, dengan judul : MENJADI SALURAN BERKAT.

Akhirnya, Buletin ini juga menyajikan informasi mengenai beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh LPP Sinode. Informasi ini kiranya dapat menolong Jemaat-jemaat untuk lebih mengenal pekerjaan-pekerjaan LPP Sinode, sekaligus membuka kemungkinan Jemaat-jemaat untuk memanfaatkan hasil pekerjaan LPP Sinode bagi usaha Jemaat melakukan kegiatan pembinaan.

Selamat membaca.

PPP-LPP Sinode.